FUNGSI PENJARA DI INDONESIA MALAH DIJADIKAN TEMPAT MEMBUAT NARKOBA

berita, berita harian, berita terkini, berita terbaru, berita hari ini, berita indonesia, berita terpopuler, info terkini, info artis, berita artis, berita popular, info terpercaya, info berita, berita unik, liputan khusus, Kesehatan

Lapas di Indonesia tak luput menjadi tempat menimbal ilmu membuat narkoba

berita, berita harian, berita terkini, berita terbaru, berita hari ini, berita indonesia, berita terpopuler, info terkini, info artis, berita artis, berita popular, info terpercaya, info berita, berita unik, liputan khusus, Kesehatan

Ilustrasi Penjara Indonesia

M11News – Peredaran narkoba di dalam lapas telah makin meresahkan. Sebut saja misalnya kasus Fredy Budiman yg dapat mengendalikan jaringan peredaran narkoba dari dalam sel & diduga melibatkan banyaknya petinggi seperti yg diungkapnya dalam testimoni yg dibeberkan oleh Koordinator KontraS, Haris Azhar.

Berita terbaru, lapas serta jadi lokasi menimba ilmu utk menciptakan narkoba. Factor ini terungkap dari ditangkapnya Edi (35) & Usman (35) oleh Pegawai Badan Narkotika Nasional di Desa Palo Lada, Kecamatan Dewantara, Kab Aceh Utara.

Badan Tubuh Narkotika Nasional (Badan Narkotika Nasional) Komjen Pol Budi Waseso mengemukakan, keduanya mendapat ilmu menciptakan narkoba tipe sabu dari salah satu napi adalah Zakir yg waktu ini mendekam di Lapas Lhoksumawe, Aceh.

“Pengalaman mampu dari salah satu napi di lapas a/n napi Zakir,” kata Budi Waseso di kantor Badan Narkotika Nasional, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (23/8).

Mantan Kabareskrim Polri ini mengakui peredaran narkoba di lapas masihlah tidak sedikit & susah diberantas. Sebab itu, beliau tidak heran jikalau pembuat sabu di Aceh itu ahli meracik barang haram itu dikarenakan menuntut ilmu dari napi di dalam lapas yg telah punyai pengalaman lebih-lebih dulu.

“Kita menyesali bahwa di lapas, napi tetap dapat leluasa. Bahkan menularkan ilmunya pada napi lain utk memproduksi barang haram itu,” menurutnya.

“Di lapas menjadi ruangan pembelajaran. Lapas ruang di mana bandar leluasa,” sambung Waseso.

Waseso menegaskan dapat lebih giat lagi mendorong Kementerian Hukum & HAM buat lakukan perbaikan & pembenahan dalam pemberantasan narkoba di lapas. Lebih lanjut ia mengemukakan, Edi & Usman mempunyai peran masing-masing dalam menciptakan sabu.

Usman contohnya, meracik jumlahnya prekursor buat dijadikan sabu dgn mutu KW3. Sedangkan Edi, meringankan buat mempersiapkan peralatan pula pengerjaan sabu bersama metode distilasi.

“Usman peracik, Edi membantunya,” tuturnya singkat.

Buat mengelabui penduduk seputar, ke-2 tersangka memproduksi sabu di gudang sektor belakang. Para tersangka ini pun menyamarkan aksinya dgn memakai pupuk kandang.

“Jadi agar baunya tak kentara, mereka gunakan pupuk. Bilang jikalau di sektor belakang itu gudang pupuk,” jelas Budi Waseso.

Kala dibekuk, Pegawai menemukan barang kebenaran 41,76 gr ephedrine bubuk & 8 liter cairan ephedrine. diluar itu, Pegawai pun mengamankan 31,5 liter asam sulfat (H2SO4), pula 30,25 liter hodchoric acid (HCL) & 1,7 kg soda api.

“Ada 800 gr Iodine, 2,5 liter methanol, 560 gr red phospor, satu dus obat Neo Napacin,” ujar Budi Waseso.

Pegawai serta menyita peralatan memasak buat menciptakan sabu adalah satu satuan kompor listrik, satu besi penyangga, empat kondensor & satu tabung labu juga suatu kipas angin.

Sementara itu, tiga narapidana Lapas Klas IIA Samarinda di Jalan Jenderal Sudirman, tengah malam, digelandang ke Mapolresta Samarinda. Ketiganya, diduga sbg pengendali peredaran sabu dari dalam lapas.

Bakri (38), Samsul (32) & Feryansyah (33), dijemput kepolisian usai berkoordinasi dengan bersama Kantor Lapas Klas IIA Samarinda. Penangkapan ketiganya, menyusul ditangkapnya 2 orang pengedar sabu masing-masing Ikwan (34) & Asmar (24), dikala bertransaksi sabu di kawasan Jalan Muso Salim, Samarinda.

“Dari tangan ke-2 orang itu (Ikwan & Asmar) kita amankan barang kebenaran 20,62 gr senilai Rupiah 25 juta. Ikwan sendiri residivis kasus narkoba th 2007 dulu,” kata Kasat Reskoba Polresta Samarinda, Kompol Belny Warlansyah, pada jurnalis di kantornya, Jalan Slamet Riyadi No 01

Berbekal keterangan Ikwan & Asmar, polisi konsisten bergerak, sampai hasilnya memperoleh info bahwa 3 orang napi penghuni Lapas Klas IIA Samarinda, ikut andil mengendalikan peredaran sabu diluar Lapas.

“Ya, hasil dari pengembangan, & dari sensor ke-2 orang itu, pengendalinya (pengendali peredaran narkoba) yaitu napi di Lapas Sudirman & kita amankan,” tutur Belny.

“Sementara kita dapatkan dari ke-3 napi itu yaitu telephone selular. Waktu Ini masihlah kita kembangkan, konsisten melaksanakan penyelidikan,” tambah Belny.

Pengungkapan kasus narkoba yg dikendalikan napi ini, bukan sekali dua kali ini. Menurut Belny, bila dirunut kembali ke belakang, banyaknya kasus narkoba, mengarah pada penghuni Lapas & Rutan di Samarinda, juga sebagai pengendalinya. Padahal, para penduduk binaan ini berada di balik sel penjara.

“Selama ini, bila dipandang ke belakang, peredaran narkoba dikendalikan di Lapas & Rutan. Kita pasti evaluasi, tingkatkan koordinasi dengan Lapas & Rutan, biar memang menghilangkan pemakaian mobile phone di dalam Lapas & Rutan,” tegas Belny